Minggu, 13 April 2008

Musik Tanjidor



Pengaruh Eropa yang kuat pada salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes Tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grup-grup Tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial tempo doeloe.

Dengan alat-alat setua itu, Tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi perhelatan atau arak-arakan pengantin. Membawakan lagu-lagu barat berirama 'mars' dan [Waltz] yang susah sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi ke generasi.

Orkes Tanjidor mulai timbul pada abad ke 18 VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling China dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Karena biasa dimainkan oleh budak-budak, orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes. Dewasa ini tanjidor sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu dan untuk memeriahkan arak-arakan.

Di Tangerang, dalam setiap perayaan Cap Go Meh ini orang-orang kaya merayakannya dengan menanggap musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan penarinya di muka halaman rumahnya. Tanjidor juga kerap dimainkan di dalam Kelenteng Boen San Bio, di Pasar Baru. Sebagian lainnya mengadakan pentas keliling kesenian musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan beberapa orang penarinya.

Rombongan musik keliling ini berada dalam lingkaran tambang. Orang-orang yang tertarik boleh masuk ke dalam lingkaran tambang untuk turut berjoget sambil keliling mengikuti rombongan musik tersebut. Rom-bongan ini berjalan mengikuti arah tambang ditarik, sehingga kalau ada dua kelompok atau lebih berada dalam satu lingkaran tambang mereka bisa saling tarik-menarik ujung tambang untuk mengarahkan jalannya rombongan.

Kalau sudah tarik-menarik, maka kelompok yang mendapat dukungan besar lebih unggul, karena dengan kekuatan tenaga banyak orang mereka bisa memimpin jalannya rombongan. Sedangkan yang kalah tidak menjadi marah, melainkan ikut arus. Tetapi, pada saat lain arah rombongan bisa berubah lagi karena dorongan orang banyak.

Arak-arakan musik ini bukan hanya satu rombongan saja, tetapi beberapa rombongan sekaligus turun keliling di jalan-jalan, sehingga kalau bertemu di tengah jalan mereka saling bertabrakan. Tetapi ini pun tidak menimbulkan keributan, karena mereka sama-sama tertawa lepas.

Berbagai seni pertunjukan tradisional telah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat pendukungnya serta merupakan daya pesona tersendiri pada wajah Kota Tangerang. Untuk dapat menikmati dan menilainya tiada cara lain yang lebih tepat kecuali menyaksikannya sendiri.

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini