Kamis, 04 September 2008

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi

Pendahuluan

Kecerdasan merupakan ciri keunggullan manusia dalam memahami ,

memutuskan dan mengantisipasi. Kecerdaasan seseorang sering tidak

dapat difahami seketika oleh orang kebanyakan , tetapi kemudian

menjadi kajian yang tak habis-habisnya setelah menjadi sejarah. Dalam

perspektip ini jarak antara orang cerdas dengan orang gila sebenarnya

sangat tipis, sehingga gagasan-gagasan orang cerdas sering dianggap

gagasan gila. Kecerdasan seseorang memungkinkannya memiliki jarak

pandang yang jauh, dua, tiga atau lebih dimensi, sementara orang

kebanyakan hanya mampu melihat satu atau maksimal dua dimensi.

Pada umumnya kecerdasan dihubungkan dengan akal (intelektuil), tetapi

kecerdasan intelektual ternyata belum menjamin ketepataan keputusan,

sehingga dewasa ini orang sudah mulai membicarakan tentang kecerdasan

yang lain, yaitu kecerdasan emosionil dan kecerdasaan spirituil.

Kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam kemampuan berfikir. Menurut

Asfihani, fikiran adalah potensi yang dapat mengantar pengetahuan

sampai kepada obyek (quwwatun mudrikatun li al `ilmi ila al ma`lum),

sedangkan berfikir artinya menggunakan potensi itu sesuai dengan

kapasitas intelektualnya.

Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah

(problem solving), (b) mengambil keputusan (decision making) dan ©

melahirkan sesuatu yang baru (kreatifitas). Karena kecerdasan

merupakan keunggulan maka hal itu dapat diukur kualitasnya, antara

lain melaui metode yang digunakan (deduksi,induksi), atau dilihat

seberapa tingkat kreatifitasnya (metode berfikir kreatip). Metode

berfikir kreatip sering tidak bisa difahami orang lain, dan prosesnya

melalui tahapan-tahapan, dari (a) orientasi, (b) Preparasi, ©

Inkubasi, (d) Iluminasi dan (e) Verifikasi. Orang yang bisa berfikir

kreatip biasanya mempunyai ciri-ciri : (1) meemiliki kecerdasan

diatas rata-rata, (2) memiliki sifat terbuka dan (3) memiliki sifat

bebas, otonom dan percaya diri.

Jika kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam berfikir, maka

kecerdasan emosi diwujudkan dalam merasa. Manusia memang makhluk yang

berfikir dan merasa. Emosi nampak dalam perubahan fisik yang

diakibatkan oleh peristiwa mental, seperti : muka merah (karena

malu), muka pucat, tubuh gemetar, terkencing (karena takut) otot

mengencang (karena marah) ,mata terpejam dan menangis (karena haru

atau gembira) dan sebagainya. Emosi adalah perubahan jasmani langsung

mengikuti persepsi mengenai kenyataan yang menggairahkan.

Dalam kehidupan, kita mengenal berbagai tipologi manusia dilihat dari

sudut ini, misalnya ada orang yang sangat pemalu disamping yang tidak

tahu malu, yang penakut, disamping yang pemberani, yang sangat perasa

disamping yang sudah mati rasa atau tidak berperasaan, yang pemarah

disamping yang penyabar. dan sebagainya. Jika kecerdasan intelektual

bisa diasah, demikian juga kecerdasan emosi dapat dirangsang.

Kecerdasan emosi ditandai dengan kemampuan pengendalian emosi ketika

menghadapi kenyataan yang menggairahkan (menyenangkan, menakutkan,

menjengkelkan, memilukan dsb). Kemampuan pengendalian emosi itulah

yang disebut sabar, atau sabar merupakan kunci kecerdasan emosional.

Adapun kecerdasan spirituil merupakan kualitas kehidupan ruhaniah

seseorang dimana seseorang dimungkinkan berkomunikasi secara

rohaniah, baik secara horizontal maupun vertikal. Memahami kecerdasan

spirituil akan mudah jika menggunakan paradigma tasauf.

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (2)

Pengertian sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi

godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka

mencapai tujuan. Dalam agama, sabar merupakan satu diantara stasiun-

stasiun (maqamat) agama, dan satu anak tangga dari tangga seorang

salik dalam mendekatkan diri kepada Allah. Struktur maqamat agama

terdiri dari (1) Pengetahuan (ma`arif) yang dapat dimisalkan sebagai

pohon, (2) sikap (ahwal) yang dapat dimisalkan sebagai cabangnya, dan

(3) perbuatan (amal) yang dapat dimisalkan sebagai buahnya. Seseorang

bisa bersabar jika dalam dirinya sudah terstruktur maqamat itu. Sabar

bisa bersifat fisik, bisa juga bersifat psikis.

Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar

berbeda-beda tergantung obyeknya.

1. Ketabahan menghadaapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah

gelisah (jaza`) dan keluh kesah (hala`)

2. Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan

diiri (dlobth an Nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar).

3. Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut

pengecut

4. Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya

disebut pemarah (tazammur)

5. Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada,

kebalikannya disebut sempit dadanya.

6. Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyyikan rahasia

(katum).

7. Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut

serakah, loba (al hirsh).

8. Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah),

kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun)

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (3)

Rangking Sabar


Ada tiga tingkatan orang sabar :

1. Orang yang dapat menekan habis dorongan hawa nafsu hingga tidak

ada perlawanan sedikitppun, dan orang itu bersabar secara konstan.

Mereka adalah orang yang sudah mencapai tingkat shiddiqin.

2. Orang yang tunduk total kepada dorongan hawa nafsunya sehingga

motivasi agama sama sekali tidak dapat muncul. Mereka termasuk

kategori orang-orang yang lalai (al ghofilun).

3. Orang yang senantiasa dalam konflik antara dorongan hawa nafsu

dengan dorongan keberagamaan. Mereka adalah orang yang

mencampuradukkan kebenaran dengan kesalahan.

Secara ppsikologis, tingkatan orang sabar dapat dibagi menjadi tiga,

yaitu :

1. Orang yang sanggup meninggalkan dorongan syahwat. Mereka termasuk

kategori orang-orang yang bertaubat (at Taibin).

2. Orang yang ridla (senang/puas) menerima apapun yang ia terima

dari Tuhan, mereka termasuk kategori zahid.

3. Orang yang mencintai apapun yang diperbuat Tuhan untuk dirinya,

mereka termasuk kategori shidddiqin.

Sabar : Kunci Kecerdasan Emosi (4)

Hukum sabar.

Meski sabar itu konotasinyya positip, tetapi belum tentu tepat. Oleh

karena itu hukum sabar terbagi tiga, yaitu wajib, sunnat dan makruh.

Menyaksikan anggauta keluarganya terlibat maksiat misalnya, bersabar

dalam arti tabah hati tanpa mengeluh adalah makruh, tetapi sabar

ketika selalu gagal dalam berusaha memperbaiki mereka adalah wajib.

Kembali kepada pengertian sabar : tabah hati tanpa mengeluh dalam

menghadapi rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka

mencapai tujuan, maka kunci kesabaran adalah kesadaarn atas tujuaan

yang ingin dicapai. Orang yang lupa tujuan biasanya tidak mampu

mengendalikan emosi ketika menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan.

Tetapi sabar juga ada batasnya, oleh karena itu kesabaran harus

selalu dievaluasi secara dinamis. Kesabaran juga biasanya berhubungan

erat dengan perasaan syukur. Artinya orang yang pandai berterima

kasih biasanya ia penyabar, sedangkan orang yang tidak mengerti

berterima kasih (kufr ni`mat) biasanya emosinya mudah digelitik.

Dalam usaha problem solving menyangkut berbagai urusan kehidupan,

sabar merupakan kekuatan yang sangat besar dan efektip. Oleh karena

itu al Qur’an secara jelas mengingatkan agar dalam upaya memohon

pertolongan kepada Tuhan, jangan lupa membangun infrastruktur

psikologinya yang terdiri dari kesabaran dan doa (salat). Ya

ayyuhalladzina amanu ista`inu bis sobri was salat, innalloha ma`a as

sobirin (Q/2:153).


dikutip dari milis DT postingan dari :

agussyafii

http://mubarok-institute.blogspot.com

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini