Senin, 15 April 2013

Pesona Danau Keruk




Lampung--Ikan wader dan mujahir tampak asik berenang di pinggiran danau. Sesekali ikan kecil itu menyelinap di balik akar pohon cherry yang menjuntai ke air danau. Tidak jauh dari tempat itu, sejumlah anak remaja asik berenang menikmati air danau yang jernih dan dingin. Sementara di sekeliling danau belasan warga asik memancing. Warga sekitar menyebutnya Danau Keruk.

Danau Keruk yang berada di Desa Timbul Rejo, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah sebenarnya lebih tepat disebut embung atau waduk. Namun, warga lebih suka menyebut lokasi itu dengan sebutan danau karena keindahan dan sudah terkenal di luar daerah itu. "Danau Keruk itu lubang bekas penambangan batu marmer dan granit. Perusahaan meninggalkan begitu saja setelah lima tahun dikeruk," kata Kepala Dusun Timbul Rejo I Sudiman, Jumat 12 Febuari 2013

Disebut Danau Keruk karena merujuk pada cara terbentuknya danau. Lahan yang kini menjadi sebuah danau itu awalnya dikeruk dengan belasan alat berat. Setiap hari ratusan ton batu kapur dan granit diangkat dari lokasi itu. Awalnya, Sarwono, 51 tahun, warga Gunung Madu, Lampung Tengah yang memiliki lahan itu menggali untuk menambang batu marmer yang ada di perut bumi.

Lima tahun menggali dengan belasan alat berat dan belasan kilogram bahan peledak, marmer yang diburu tak dadapat. Dia hanya mendapati batu kapur. Setelah menggali hingga kedalaman sekitar 35 meter pun hanya marmer yang masih berusia muda dan belum layak ditambang yang didapat. "Sementara air terus mengalir dari tiga mata air yang ada di dasar lubang galian. Kami kewalahan," kata Sarwono.

Sarwono yang sudah mengeluarkan ratusan juta untuk aktifitas penambangan itu lalu menghentikan pengerukan. Lubang menganga dengan air yang terus mengalir dibiarkan begitu saja. Sementara lahan sekitar juga menjadi gersang karena tanaman mati terkena debu kapur. "Kami sudah mengerahkan dua alat penyedot air namun tak mampu mengurasnya dan air terus memenuhi areal penambangan," katanya.

Menurut Reksono, 60 tahun, warga Timbul Rejo, saat aktivitas penambangan selain bunyi bising alat berat dan truk yang hilir mudik, tanaman warga pun rusak karena tertutup debu kapur yang terbang dibawa angin. Daun yang hijau berganti warna putih berselimut debu. Tidak hanya itu, kata dia, warga sekitar juga banyak yang mengeluhkan sesak napas. "Tapi itu lahan mereka dan pemerintah setempat sudah mengijinkan. Tidak ada alasan kami untuk menolak," kata lelaki yang rumahnya hanya berjarak seratus meter dari lokasi penambangan.

Perburuan batu marmer itu dimulai tahun 2000-an dan berakhir pada 2005. Masa-masa itu selain polusi debu, puluhan warga juga beralih profesi menjadi buruh pemecah dan pengangkut batu dari dasar sumur tambang. Mereka mendapat bayaran Rp 50 ribu untuk satu truk batu kapur. "Satu truk bisa dua atau tiga orang yang terlibat. Dalam sehari kami hanya mampu menaikan batu ke tiga hingga lima truk saja," katanya.

Kegiatan ekonomi itu membuat kehidupan di desa yang dikelilingi areal kebun sawit menggeliat. Mereka mulai cuek dengan polusi yang sangat membahayakan kesehatan. Uang dianggap lebih penting dari segalanya. "Apalagi pada masa-masa itu sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Semua usaha tengah lesu," katanya.

Lahan bekas areal pertambangan yang gersang itu membuat tanaman di areal sepuluh hektar mati. Rumput tak bisa tumbuh lantaran tanah tertutupi material tambang. Kesuburan terkubur bersama kenangan para penambang. "Melihat lahan mangkrak dan tandus, saya sangat prihatin. Saya lalu melobi Pak Sutrisno, lurah Timbul Rejo yang ternyata punya keprihatinan yang sama," kata Ahmad Gozien, 37 tahun, warga Desa Sidoluhur, Bangun Rejo, Lampung Tengah.

Meski berada 5 kilometer dari lokasi itu, Ahmad Ghozien yang juga aktivis lingkungan di desa itu terpanggil. Dia bersama Sutrisno bahu membahu menanami lahan seluas sepuluh hektar. Sangat sulit, karena dia harus mengelupas lapiran debu kapur yang menyelimuti bagian atas tanah. "Kami menanam akasia, jabon dan medang," katanya.

Usaha menanami kembali lahan kritis itu dimulai tahun 2006. Usaha mereka awalnya kurang mendapat respon warga sekitar danau. Warga beranggapan, lahan yang akan ditanami itu bukan milik mereka dan tidak membawa keuntungan ekonomi. "Memang seperti sepele. Mereka beranggapan untuk apa bersusah payah jika nantinya akan kembali diambil pemiliknya," katanya.

Mendapat respon kurang positif, Ahmad Ghozien yang hanya tamatan sekolah menengah atas itu lantas meminta kepala desa untuk melobi pemilik lahan agar warga bisa mengambil manfaat dari aktivitas penghijauan. Pembicaraan berlangsung alot. Pemilik lahan akhirnya sepakat dengan pola kerjasama sewa lahan. "Sepuluh warga diperkenankan menggarap lahan seluas delapan hektar. Mereka boleh menanami apa saja dengan menyewa kepada pemiliknya," kata Sudiman.

Sementara Ahmad Ghozien dan Keompok Tani Tunas Muda-nya menanami dengan tanaman keras seperti mahoni, akasia, jabon, sengon hingga medang. Pohon-pohon itu kini telah tumbuh subur mengelilingi danau. Pohon-pohon yang ditanam sejak 2007 lalu kini sudah tampak rimbun. "Sedangkan warga menanami pisang, jagung dan singkong di sela-sela tanaman keras itu. Ekonomi warga terdongkrak," katanya.

Sementara air danau, yang tadinya kurang dilirik, ditebari puluhan ribu bibit ikan. Menjelang pemilihan umum 2009 lalu, warga memanfaatkan sejumlah calon legislatif untuk menebarkan bibit ikan di danau itu. Ada ikan patin, mujahir, lele hinga ikan gabus mendiami di dasar danau seluas dua hektar itu. Keberadaan ikan-ikan itu membuat warga tertarik untuk memancing kembali bibit ikan yang telah ditebar.

Ikan-ikan itu kini telah berkembang biak. Sejumlah pemancing yang biasa beraksi di Danau Keruk mengaku pernah mendapatkan seekor ikan patin seberat 2 kilogram. Aktivitas memancing itu bertamba ramai saat hari libur. Mereka datang dari luar Kecamatan Bangun Rejo bahkan dari luar Kabupaten Lampung Tengah.

Di musim kemarau, Danau Keruk merupakan harapan warga sekitar untuk mandi dan mencuci pakaian. Meski berair jernih, warga masih enggan untuk mengkonsumsi dengan alasan kandungan kapurnya terlalu banyak. Sebuah drainase juga dibuat agar saat hujan lebat, air danau yang tak pernah surut itu bisa melimpas ke areal perbunan sawit yang mengelilingi danau.

Untuk menuju Danau Keruk, kita harus melewati jalanan berbatu sepanjang 5 kilometr yang membelah kebun sawit. Butuh dua puluh menit untuk mencapai lokasi dari pusat pemerntahan kecamatan di Bangun Rejo.

Daya tarik Danau Keruk itu belum sepenuhnya dimanfaatkan secaa ekonomi oleh warga. Mereka belum memungut biaya masuk bagi pengunjung. Pengunjung bebas memancing tapi tidak boleh menjaring, meracuni dan menyetrum ikan dengan listrik. "Kami akan mengusir mereka yang merusak kelestarian danau. Silahkan datang dan menikmati hasil kerja keras kami merehabilitasi lahan. Jangan merusak," katanya.

Ahmad Ghozien yang merintis penghijauan dan merehabilitasi lahan Danau Keruk memiliki perjalanan panjang di bidang lingkungan. Sejak 1996, setamat sekolah, dia bergabung dengan Komunitas Pemuda Pencita Alam Kalirejo lalu bergabung dengan Kelompok Pecinta dan Penyelamat Hutan Cinta Indonesia. Saat ini dia selain menjadi ketua Kelompok Pemuda Tani Tunas Muda Bangun Rejo, dia juga didapuk pemerintah setempat sebagai Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM).

Dia aktif berkeliling melakukan penyadaran masyarakat untuk menyelamatkan hutan dan menanam pohon di lahan kritis. Di kecamatan tempat dia tinggal, bersama kelompoknya dia menanami setiap lahan yang tampak gersang. Tidak peduli lahan itu bikin miliknya. "Yang penting harus ada ijin sebelum menanam," kata Ahmad Ghozien.

Dia mengaku prihatin, dengan aktivitas pemukaan lahan perkebunan sawit yang marak. Keberadaan kebun sawit itu dinilai akan menyedot kandungan air dalam tanah. Krisis air di desanya setiap saat mengancam. "Dulu sembilan desa yang menjadi daerah garapan kami sangat gersang. Kini, warga mulai sadar dan menanami tanaman penyangga di samping kebun sawit," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit pohon, Kelompok Pemuda Tani Tunas Muda membangun tempat pembibitan. Di lahan seperempat hektar milik Ahmad Ghozien mereka menyemai berbagai jenis bibit pohon. Untuk mendapatkan bibit, warga harus membeli Rp 1000 per batang. "Secara ekonomis itu tidak menjanjikan tapi harus ada yang memulainya," kata lelaki yang barus saja mendapat pengharagaan penyuluh penyelematan hutan terbaik tingkat nasional itu.

Sejumlah kalangan yang simpatik lalu tertarik membantu. Sebut saja anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Lampung Anang Prihartono yang membantu 15 ribu bibit pohon untuk menanami areal Danau Keruk akhir tahun lalu. "Saya berharap cara kami menyelamatkan bekas lokasi tambang di Danau Keruk bisa diikuti daerah lain yang memiliki persoalan serupa," katanya.

Di Lampung sebenarnya terdapat puluhan areal lokasi tambang yang ditinggalkan begitu saja dengan menyisakan kerusakan lingkungan. Lubang-lubang menganga tersebar di Kabupaten Lampung Tengah, Pesawaran, Pringsewu, Lampung Selatan hingga Lampung Timur. Kondisi terparah ada di Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur. Di daerah itu, akibat penambangan pasir yang tak terkendali, sebuah desa nyaris tenggelam. "Kami kewalahan menghentikan penambangan karena warga sekitar melindungi. Mereka menggantungkan hidupnya pada usaha tabang pasir meski permukiman terancam tenggelam," kata Bupati Lampung Timur Erwin. 

sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/04/13/199473107/Pesona-Danau-Keruk

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini