Senin, 09 Juni 2008

Cerita Dari Tangerang

Tangerang mencatat sejarah tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah tersebut. Kitab "Tina Layang Parahyangan" menceritakan peristiwa mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung di muara Sungai Cisadane pada tahun ±1407. Rombongan tersebut terdampar sebelum tiba di Jayakarta, dengan membawa tujuh kepala keluarga.

Mereka menghadap pada Sanghyang Anggalarang, wakil Kerajaan Parahyangan (Pajajaran(?)) selaku penguasa daerah waktu itu, untuk minta pertolongan dan berhasil mendapat sebidang tanah di pantai utara Jawa sebelah timur Sungai Cisadane. Terjadilah pula kawin mawin antara pendatang dari negeri Cina dengan ponggawa Sanghyang Anggalarang. Tanah itu berkembang menjadi pemukiman yang disebut Kampung Teluk Naga hingga kini.

Tangerang berarti Benteng Pertahanan yang berlokasi sepanjang Sungai Cisadane, telah ratusan tahun menjadi saksi kukuhnya rakyat mempertahankan kemerdekaan yang bermartabat. Sejak jaman Sultan Abdulfattah pada tahun 1652, di daerah Angke-Tangerang disiagakan pasukan untuk menghadapi serangan kompeni. Tahun 1656, kompeni mencatat bahwa pasukan Banten terus bergerilya di daerah ini untuk mencegat patroli, membakar pabrik, hingga menyerang kapal Kompeni di perairan. Wilayah Angke-Tangerang merupakan front terdepan medan perang, bahkan pada hari Senin tahun 1658 telah diberangkatkan sebanyak 5000 prajurit Banten ke daerah ini.

Pada perkembangan berikutnya, Tangerang selalu populer ketika wilayah itu menjadi medan pertempuran rakyat melawan Kompeni Belanda dari Batavia. Tercatat Tumenggung yang gugur dalam melawan kompeni sehingga Kemaulanaan Tangerang berakhir, diantaranya: Aria Santika, Aria Yudanegara, dan Aria Wangsakara. Pahlawan lain yang melawan penjajah adalah Pangeran Kabal dengan putrinya Nyi Mas Melati, dan Daan Mogot

Sekarang Tangerang sekarang menjadi kota Satelit Jakarta, menjadi daerah perindutrian yang cocok untuk pembangunan pabrik-pabrik. Di kota ini berdiri pula Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi).

Bahasa dan Seni Tradisi: Penduduk asli Tangerang adalah suku Sunda yang mayoritas berbahasa Sunda. Seiring perkembangan Tangerang sebagai kota modern, bahasa Indonesia dipakai pula dalam pergaulan dengan para pendatang dari suku-suku lainnya. Seni tradisi yang masih tersisa di Tangerang: Lenong/Topeng, Cokek, Pencak silat, Wayang Golek, Reog, Angklung Gubrag, Qasidah, Tanjidor, Tari Papacal, Tari Baksa, Tari Sadawuh dan Wayang kulit.

Sumber : http://indonesia45.tripod.com/id6.html

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini