Rabu, 22 Oktober 2008

Sekilas Tangerang 1870 - 1942

Tangerang atau yang saat itu disebut sebagai Kampung Makasar memiliki sejarah yang cukup unik. Struktur masyarakat yang tadinya sangat kental diwarnai suasana pedesaan dan agraris, tiba-tiba berubah menjadi urban bahkan metropolis. Masyarakat Tangerang saat itu mengalami perubahan yang cukup hebat dalam bidang sosial dan ekonomi. Dengan kata lain, Tangerang yang dikenal sebagai daerah pertanian, peternakan, tempat penampungan anak-anak nakal dan orang-orang pesakitan, serta tempat penampungan penderita kusta, berubah menjadi kota yang berkembang dengan pesat....

Pada tahun 1522, nama desa Tangerang pertama kali disebut oleh pengarang Portugis Barros. Saat itu, tepatnya sampai akhir abad ke-17 seluruh daerah di sebelah Barat Sungai Angke adalah wilayah kekuasaan Sultan Banten. Dalam perang antara Sultan Ageng Tirtajasa dan VOC, Tangerang diduduki oleh tentara kompeni yang membangun kubu pertahanan sederhana, sementara Sungai Cisadane dianggap sebagai perbatasan antara kedua kekuatan yang bermusuhan.Desa Tangerang diakui sebagai pos perbatasan dalam perjanjian dengan Sultan Haji (1684). Kubu bambu pelan-pelan diperkuat dan ditempati sejak permulaan abad ke-18 oleh puluhan tentara VOC yang berasal dari Makassar. Tidak jauh darinya dibangun benteng lagi dari batu (1712), yang ditempati komandan Belanda sampai 1809 dengan pasukkan Eropa. Pada kerusuhan Tionghoa sekitar tahun 1740, ”Benteng Makasar” direbut dan dihancurkan, sedangkan benteng lain bertahan terhadap tiga serangan gerombolan pemberontak Tionghoa.Selama abad ke-18 daerah Tangerang diurusi oleh residen-residen yang berasal dari keluarga kesultanan Banten. Sebelum invasi Inggris tahun 1811 benteng Tangerang diperkuat dan dipergunakan oleh pasukan kavaleri serta artileri untuk mengantisipasi bahaya kerjasama antara Inggris-Benteng-penduduk Tionghoa. Sebab pada pemberontakan Kiai Tapa tahun 1752 situasi benteng sangat rawan. Sampai tahun 1918 Tangerang menjadi bagian administratif (afdeling) sendiri, yang pada tahun 1917 mencakup 378.760 penduduk pribumi, 35.600 orang Tionghoa, 120 orang Belanda dan 20 orang Arab. Pada tahun 1918 Tangerang menjadi 'controle-afdeling' dari Batavia, namun pada tahun 1943 diangkat menjadi kabupaten sendiri.

Setelah Jepang menyerah tahun 1945 Tangerang direbut 'Rakjat Djelata', 'Barisan Keamanan Rakyat' dan kadet Akademi tentara. Karena posisinya yang strategis, Tangerang diduduki lagi KNIL setelah pertempuran sengit di Cengkareng tahun 1946. Selama perang Kemerdekaan tahun 1945-1949 dan masa sebelum G-30-S, Tangerang mengalami gangguan keamanan. Sejak tahun 1970-an perkembangan industri khususnya kimia dan tekstil, puluhan kompleks perumahan baru, jalan tol dan lapangan terbang internasional, mengubah Tangerang dan sekitarnya secara drastis.

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini