Kamis, 15 Oktober 2009

Wayang Garing

Wayang Garing bukanlah jenis pertunjukkan yang berpijak pada lakon, melainkan pada sederet guyon yang langsung melibatkan pemilik hajat (panitia) dan para penonton. Ibarat pertunjukkan teater, wayang garing mirip “teater miskin” Artaud yang mengeksplorasi keterbatasan dengan memaksimalkan apa yang dimiliki. Wayang Garing bukanlah sejenis dongeng yang mengisahkan suatu cerita, melainkan percakapan seorang dalang kepada penontonnya mengenai kehidupan nyata ki dalang di tengah masyarakatnya.

Wayang Garing sangat berbeda dengan wayang kulit di Yogyakarta atau wayang golek di Jawa Barat. Wayang kulit adalah teater stanislavski yang amat setia pada lakon, sedangkan wayang golek mirip dengan teater Brecht yang mengasingkan lakon dengan kocokan guyonan. Perbedaan itu dengan sendirinya mencerminkan karakteristik kebudayaan dan masyarakat yang menghidupi masing-masing kesenian tersebut. Sifat egaliter yang amat merakyat, dengan bahasa yang multikultur, komposisi lakon dan guyon, irama dan pakem pertunjukkan wayang garing tidak gampang ditemukan dalam jenis-jenis wayang lainnya.



sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Banten

Tidak ada komentar:

SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini