Saran saya sebagai warga biasa, alihkan arus lalin pada jam sibuk menuju arah jalan baru tembus jalan thamrin. Kemudian batasi kendaraan besar seperti truk untuk masuk pada jam sibuk (pagi dan sore). Agar semua kepadatan ini terurai. Atau Pemerintah Daerah melalui Dinas Perhubungan beserta Polres melalui Polisi Lalu Lintas nya dapat berkoordinasi dalam memecahkan masalah ini. Bila dibiarkan terus tanpa ada niat menyelesaikannya maka akan semakin bertambah parah.
Rabu, 25 September 2013
Unek-unek di Jalan Raya (Kemacetan di Karawaci arah Cikokol)
Saran saya sebagai warga biasa, alihkan arus lalin pada jam sibuk menuju arah jalan baru tembus jalan thamrin. Kemudian batasi kendaraan besar seperti truk untuk masuk pada jam sibuk (pagi dan sore). Agar semua kepadatan ini terurai. Atau Pemerintah Daerah melalui Dinas Perhubungan beserta Polres melalui Polisi Lalu Lintas nya dapat berkoordinasi dalam memecahkan masalah ini. Bila dibiarkan terus tanpa ada niat menyelesaikannya maka akan semakin bertambah parah.
Kamis, 19 April 2012
[Photo] Sungai Cisadane Gerendeng Kota Tangerang
![]() |
| Sungai Cisadane, Gerendeng Kota Tangerang |
Jumat, 13 April 2012
Bioskop-bioskop di Tangerang Tempo Dulu
![]() |
| Bioskop Bumex (sumber: www.tangerangkota.go.id) |
Kamis, 15 Oktober 2009
Kerajinan Bambu Ciakar

Kabupaten Tangerang memiliki potensi besar dibidang seni kriya yang memiliki potensi ekspor. Terletak di Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, jaraknya dari Kota Tangerang 10 Km atau 5 Km dari Kecamatan Curug, akses menuju lokasi cukup baik, dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun umum, dengan rute Balaraja - Citra Raya - Ciakar atau Bitung - Citra Raya - Ciakar. Telah memproduksi bermacam-macam seni kerajinan yang terbuat dari bambu dan rotan, seperti : alat-alat rumah tangga, hiasan lampu, dan pernak-pernik lainnya, yang sangat potensial untuk dijadikan Cinderamata yang layak untuk dijual kepada wisatawan. Selain di Kecamatan Panongan terdapat pula di Kecamatan Legok, Kecamatan Curug, Kecamatan Cikupa, Kecamatan Balaraja, dan Kecamatan Ciputat.
Terdapat home industry aneka seni bambu yang di pimpin Bapak Marjan, Desa Ciakar Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang.
sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Banten
Rabu, 22 Oktober 2008
Klenteng Bon Tek Bio
Hal yang menarik dari Kelenteng Boen Tek Bio ini adalah setiap 12 Tahun sekali mengadakan upacara perayaan Gotong Toapekong berkeliling daerah pasar lama kota Tangerang. Tidak hanya warga sekitar yang berdatangan ketika perayaan berlangsung. Bahkan umat dari berbagai penjuru Indonesia pun datang untuk menyaksikan peristiwa unik yang hanya bisa disaksikan dalam 12 tahun sekali ini, yang bertepatan dengan tahun Naga.
Tradisi Gotong Toapekong ini, sudah terjadi sejak lama, dan masih diteruskan sampai saat ini. Hal ini juga merupakan sebuah pesta rakyat, dimana acara ini dimeriahkan juga oleh Barongsai dan Liong yang mengiringi arak-arakan tersebut. Tak hanya itu, berbagai macam kesenian daerah pun ditampilkan seperti Reog Ponorogo, Angklung, Barong Bali, baju adat dari berbagai suku dan lain sebagainya.
Konon sejak dulu kala, jika acara Gotong Toapekong ini dilangsungkan, selalu dipenuhi oleh ribuan pengunjung, penuh sesak dan berjejal. Orang yang memegang Joli (tandu) dari YMS Kwan Sie Im Hud Couw pun bukan sembarang orang, mereka harus terlebih dahulu di Ciamsi.
Suatu ketika, dimana upacara Gotong Toapekong berlangsung, saat itu umat sudah penuh dan sesak dan tidak memungkinkan untuk keluar. Para panitia kebinggungan dan tidak tahu harus berbuat apa, lalu panitia segera melakukan ciamsi dan mendapatkan petunjuk dari YMS Kwan Sie Im Hud Couw melalui seorang ahli agar membawa keluar sebatang kayu terlebih dahulu. Umat malah menganggap kayu tersebut adalah Joli YMS Kwa Sie Im Hud Couw, dan mengikutinya, sehingga memberi ruang agar joli tersebut bisa lewat.
Sekarang Kelenteng Boen Tek Bio ini terbentang megah dan semakin berkembang. Jadi, jika Anda berkunjung ke Kota Tangerang, belum lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Kelenteng Boen Tek Bio ini. Lihat sendiri kemegahan dan kesakralan salah satu kelenteng tertua di Tangerang ini.
Dari berbagai sumber
Sebuah Catatan Tangerang
Tangerang mencatat sejarah tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah tersebut. Kitab "Tina Layang Parahyangan" menceritakan peristiwa mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung di muara Sungai Cisadane pada tahun ±1407. Rombongan tersebut terdampar sebelum tiba di Jayakarta, dengan membawa tujuh kepala keluarga.
Mereka menghadap pada Sanghyang Anggalarang, wakil Kerajaan Parahyangan (Pajajaran) selaku penguasa daerah waktu itu, untuk minta pertolongan dan berhasil mendapat sebidang tanah di pantai utara Jawa sebelah timur Sungai Cisadane. Terjadilah pula kawin mawin antara pendatang dari negeri Cina dengan ponggawa Sanghyang Anggalarang. Tanah itu berkembang menjadi pemukiman yang disebut Kampung Teluk Naga hingga kini.
Tangerang berarti Benteng Pertahanan yang berlokasi sepanjang Sungai Cisadane, telah ratusan tahun menjadi saksi kukuhnya rakyat mempertahankan kemerdekaan yang bermartabat. Sejak jaman Sultan Abdulfattah pada tahun 1652, di daerah Angke-Tangerang disiagakan pasukan untuk menghadapi serangan kompeni. Tahun 1656, kompeni mencatat bahwa pasukan Banten terus bergerilya di daerah ini untuk mencegat patroli, membakar pabrik, hingga menyerang kapal Kompeni di perairan. Wilayah Angke-Tangerang merupakan front terdepan medan perang, bahkan pada hari Senin tahun 1658 telah diberangkatkan sebanyak 5000 prajurit Banten ke daerah ini.
Pada perkembangan berikutnya, Tangerang selalu populer ketika wilayah itu menjadi medan pertempuran rakyat melawan Kompeni Belanda dari Batavia. Tercatat Tumenggung yang gugur dalam melawan kompeni sehingga Kemaulanaan Tangerang berakhir, diantaranya: Aria Santika, Aria Yudanegara, dan Aria Wangsakara. Pahlawan lain yang melawan penjajah adalah Pangeran Kabal dengan putrinya Nyi Mas Melati, Oto Iskandar Dinata dan Daan Mogot
Sekarang Tangerang sekarang menjadi kota Satelit Jakarta, menjadi daerah perindutrian yang cocok untuk pembangunan pabrik-pabrik. Di kota ini berdiri pula Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi).
Bahasa dan Seni Tradisi: Penduduk asli Tangerang adalah suku Sunda yang mayoritas berbahasa Sunda. Seiring perkembangan Tangerang sebagai kota modern, bahasa Indonesia dipakai pula dalam pergaulan dengan para pendatang dari suku-suku lainnya. Seni tradisi yang masih tersisa di Tangerang: Lenong/Topeng, Cokek, Pencak silat, Wayang Golek, Reog, Angklung Gubrag, Qasidah, Tanjidor, Tari Papacal, Tari Baksa, Tari Sadawuh dan Wayang kulit.
Aksi teror gerobolan ce'mamat (9 desember 1945)
Untuk memperkuat kekuasaannya, Ce' mamat dan para pengikutnya antara lain Laskar Gulkut melakukan berbagai teror, merampok harta benda rakyat, menculik dan membunuh pejabat pemerintahan. Bupati Lebak R. Hardiwinangun termasuk salah seorang pejabat pemerintah yang menjadi korban. Kesempatan untuk membunuh bupati ini terbuka ketika Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta berkunjung ke daerah Banten. Dengan dalih dipanggil Presiden, Ce' Mamat dan anak buahnya menjemput R. Hardiwinangun dari rumahnya di Rangkasbitung. ternyata ia dibawa ke desa Panggarangan bukan ke Serang. Pagi harinya tanggal 9 Desember 1945, mereka membunuh R. Hardiwinangun dengan tembakan di jembatan sungai Cimancak dan membuang mayatnya ke sungai.
Sumber : http://www.sejarahtni.mil.id/
Aksi kekerasan Pasukan Ubel-ubel di Sepatan Tangerang (12 Desember 1945)
Sumber : http://www.sejarahtni.mil.id/
Sekilas Tangerang 1870 - 1942
Tangerang atau yang saat itu disebut sebagai Kampung Makasar memiliki sejarah yang cukup unik. Struktur masyarakat yang tadinya sangat kental diwarnai suasana pedesaan dan agraris, tiba-tiba berubah menjadi urban bahkan metropolis. Masyarakat Tangerang saat itu mengalami perubahan yang cukup hebat dalam bidang sosial dan ekonomi. Dengan kata lain, Tangerang yang dikenal sebagai daerah pertanian, peternakan, tempat penampungan anak-anak nakal dan orang-orang pesakitan, serta tempat penampungan penderita kusta, berubah menjadi kota yang berkembang dengan pesat....
Pada tahun 1522, nama desa Tangerang pertama kali disebut oleh pengarang Portugis Barros. Saat itu, tepatnya sampai akhir abad ke-17 seluruh daerah di sebelah Barat Sungai Angke adalah wilayah kekuasaan Sultan Banten. Dalam perang antara Sultan Ageng Tirtajasa dan VOC, Tangerang diduduki oleh tentara kompeni yang membangun kubu pertahanan sederhana, sementara Sungai Cisadane dianggap sebagai perbatasan antara kedua kekuatan yang bermusuhan.Desa Tangerang diakui sebagai pos perbatasan dalam perjanjian dengan Sultan Haji (1684). Kubu bambu pelan-pelan diperkuat dan ditempati sejak permulaan abad ke-18 oleh puluhan tentara VOC yang berasal dari Makassar. Tidak jauh darinya dibangun benteng lagi dari batu (1712), yang ditempati komandan Belanda sampai 1809 dengan pasukkan Eropa. Pada kerusuhan Tionghoa sekitar tahun 1740, ”Benteng Makasar” direbut dan dihancurkan, sedangkan benteng lain bertahan terhadap tiga serangan gerombolan pemberontak Tionghoa.Selama abad ke-18 daerah Tangerang diurusi oleh residen-residen yang berasal dari keluarga kesultanan Banten. Sebelum invasi Inggris tahun 1811 benteng Tangerang diperkuat dan dipergunakan oleh pasukan kavaleri serta artileri untuk mengantisipasi bahaya kerjasama antara Inggris-Benteng-penduduk Tionghoa. Sebab pada pemberontakan Kiai Tapa tahun 1752 situasi benteng sangat rawan. Sampai tahun 1918 Tangerang menjadi bagian administratif (afdeling) sendiri, yang pada tahun 1917 mencakup 378.760 penduduk pribumi, 35.600 orang Tionghoa, 120 orang Belanda dan 20 orang Arab. Pada tahun 1918 Tangerang menjadi 'controle-afdeling' dari Batavia, namun pada tahun 1943 diangkat menjadi kabupaten sendiri.
Setelah Jepang menyerah tahun 1945 Tangerang direbut 'Rakjat Djelata', 'Barisan Keamanan Rakyat' dan kadet Akademi tentara. Karena posisinya yang strategis, Tangerang diduduki lagi KNIL setelah pertempuran sengit di Cengkareng tahun 1946. Selama perang Kemerdekaan tahun 1945-1949 dan masa sebelum G-30-S, Tangerang mengalami gangguan keamanan. Sejak tahun 1970-an perkembangan industri khususnya kimia dan tekstil, puluhan kompleks perumahan baru, jalan tol dan lapangan terbang internasional, mengubah Tangerang dan sekitarnya secara drastis.
Sejarahnya Benteng Makasar: Asal-usul Tangerang sebagai Kota Benteng
Untuk mengungkapkan asal-usul Tangerang sebagai kota “Benteng”, diperlukan catatan yang menyangkut perjuangan. Menurut sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC, resolusi tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru tersebut Sultan Banten telah memindahkan 5.000 sampai 6.000 penduduk.
Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 diberitakan bahwa Sultan Banten telah mengangkat “Radin Sena Patij dan Keaij Daman” sebagai penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai akan merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan tersebut Ki Demang sakit hati. Kemudian tindakan selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan.
Dalam arsip VOC selanjutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menjelaskan bahwa penguasa Tangerang pada waktu itu adalah ”Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja minta perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini terdapat dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi tempat di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni.
Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta ahli perangnya berhasil memukul mundur pasukan Banten. Atas jasa keunggulannya itu kemudian ia diberi gelar kehormatan Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya adalah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi kekuasaan kompeni, Banten tidak mempunyai hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satiu pasal dari perjanjian tersebut berbunyi: ”Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni.”
Dengan adanya perjanjian tersebut daerah kekuasaan bupati bertambah luas sampai sebelah barat sungai Tangerang. Untuk mengawasi Tangerang maka dipandang perlu menambah pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, karena orang-orang Banten selalu menekan penyerangan secara tiba-tiba. Menurut peta yang dibuat tahun 1962, pos yang paling tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah utara Kampung Baru. Namun kemudian ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang.
Menurut arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat menyetujui usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan agar orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang akan dibangun untuk ditempati itu direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Diasan akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makassra yang akan tinggal diluar benteng. Bahan dasar benteng adalah batu bata yang diperoleh dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I.
Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini kemudian menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, diputuskan untuk memperbaiki dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang pribumi pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut ”Superintendant of Publik Building and Workd” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: ”…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya.”
Sejarah Cina Benteng
SEJARAH Cina Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat Cina di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.
Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang Cina yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.
Mengenai asal-usul kata Cina Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.
Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Cina Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah “Cina Benteng”.
Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang Cina menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang Cina yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC.
Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan Cina di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang Cina mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor.
Itulah sebabnya banyak orang Cina yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang-di luar pecinan di Pasar Lama dan Pasar Baru.
Meski demikian, menurut pemerhati budaya Cina Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai Cina Benteng.
Sebagai kawasan permukiman Cina, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).
Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.
Dalam penelitiannya, sarjana Seni Rupa dan Desain ITB Jurusan Desain Komunikasi Visual, Y Sherly Marianne, antara lain menyebutkan, sekitar 80 persen dari 19.191 warga Kelurahan Sukasari di Kotamadya Tangerang adalah orang Cina Benteng. Angka statistik April 2002 ini tidaklah mengherankan karena Pasar Lama masuk dalam wilayah Sukasari.
Menurut Sherly, kehidupan masyarakat Cina Benteng memang keras agar bisa bertahan hidup. Sebab, sebagian besar pekerjaan mereka bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan.
YANG unik dari masyarakat Cina Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Cina. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat Cina Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.
Logat Cina Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, “Mau ke mana”, misalnya, kata “na” diucapkan lebih panjang sehingga terdengar “mau kemanaaaa”.
Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat Cina Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan, umumnya diwarnai tari cokek yang sebenarnya merupakan budaya tayub masyarakat Sunda pesisir seperti Indramayu.
Meski demikian, masyarakat Cina Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan “Meja Abu” di setiap rumah orang Cina Benteng.
“Tidak usah dipertentangkan. Realitasnya, masyarakat Cina Benteng memang sudah berakulturasi dengan lingkungan lokal, tapi mereka juga masih memegang adat istiadat kepercayaan nenek moyang dan leluhur mereka,” kata Eddy.
Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Pek Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).
Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua. “Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga Cina Benteng pada saat bertemu dengan orang lain,” kata Asiuntapura Markum (55) yang lahir di Tangerang.
Yang khas dari masyarakat Cina Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya Cina dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, kata Eddy, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi Cina-Betawi yang tampak pada kembang goyang.
SECARA ekonomi, masyarakat tradisional Cina Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil.
Ny Kenny atau Lim Keng Nio (48) yang tinggal di Gang Cilangkap RT 03 RW 02, Kelurahan Sukasari, Tangerang, misalnya, setiap hari harus bangun pagi-pagi untuk membawa dagangan kue ke pasar. Ong Gian, petani sawah di Neglasari yang nyambi menjadi pemain musik gambang kromong, juga harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan hidup.
Fenomena Cina Benteng, kata Eddy, merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan Cina dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan Cina Benteng seakan menegaskan bahwa tidak semua orang Cina memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi. Dengan keluguannya, mereka bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.
David Kwa lebih melihat fenomena Cina Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat Cina Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini membuat David yakin, persoalan sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik.
Realitas Cina Benteng yang tinggal di pusat kekuasaan politik dan ekonomi menunjukkan, masyarakat etnis Cina sesungguhnya sama dengan etnis lainnya. Ada yang punya banyak uang, tetapi ada pula yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Bahkan, Ridwan Saidi, pengamat budaya dari Betawi, melihat realitas Cina Benteng sebagai wajah lain Indonesia. Ada yang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin.
Dikutip dari berbagai sumber tentang sejarah Tangerang
Minggu, 13 April 2008
Musik Tanjidor

Pengaruh Eropa yang kuat pada salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes Tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grup-grup Tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial tempo doeloe.
Dengan alat-alat setua itu, Tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi perhelatan atau arak-arakan pengantin. Membawakan lagu-lagu barat berirama 'mars' dan [Waltz] yang susah sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi ke generasi.
Orkes Tanjidor mulai timbul pada abad ke 18 VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling China dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Karena biasa dimainkan oleh budak-budak, orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes. Dewasa ini tanjidor sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu dan untuk memeriahkan arak-arakan.
Di Tangerang, dalam setiap perayaan Cap Go Meh ini orang-orang kaya merayakannya dengan menanggap musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan penarinya di muka halaman rumahnya. Tanjidor juga kerap dimainkan di dalam Kelenteng Boen San Bio, di Pasar Baru. Sebagian lainnya mengadakan pentas keliling kesenian musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan beberapa orang penarinya.
Rombongan musik keliling ini berada dalam lingkaran tambang. Orang-orang yang tertarik boleh masuk ke dalam lingkaran tambang untuk turut berjoget sambil keliling mengikuti rombongan musik tersebut. Rom-bongan ini berjalan mengikuti arah tambang ditarik, sehingga kalau ada dua kelompok atau lebih berada dalam satu lingkaran tambang mereka bisa saling tarik-menarik ujung tambang untuk mengarahkan jalannya rombongan.
Kalau sudah tarik-menarik, maka kelompok yang mendapat dukungan besar lebih unggul, karena dengan kekuatan tenaga banyak orang mereka bisa memimpin jalannya rombongan. Sedangkan yang kalah tidak menjadi marah, melainkan ikut arus. Tetapi, pada saat lain arah rombongan bisa berubah lagi karena dorongan orang banyak.
Arak-arakan musik ini bukan hanya satu rombongan saja, tetapi beberapa rombongan sekaligus turun keliling di jalan-jalan, sehingga kalau bertemu di tengah jalan mereka saling bertabrakan. Tetapi ini pun tidak menimbulkan keributan, karena mereka sama-sama tertawa lepas.
Berbagai seni pertunjukan tradisional telah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat pendukungnya serta merupakan daya pesona tersendiri pada wajah Kota Tangerang. Untuk dapat menikmati dan menilainya tiada cara lain yang lebih tepat kecuali menyaksikannya sendiri.
Kamis, 03 April 2008
Tari Cokek

Tari cokek adalah tarian khas Tangerang, yang diwarnai budaya etnik China. Tarian ini diiringi orkes gambang kromong ala Betawi dengan penari mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian Cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria dan wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan. Cokek sendiri merupakan tradisi lokal masyarakat Betawi dan China Benteng, yaitu kelompok etnis China yang nyaris dipinggirkan, dan kini banyak bermukim di Tangerang.
Menurut Ninuk Kleden Probonegoro, seorang peneliti dari LIPI, banyak versi tentang awal kelahiran seni rakyat ini. Versi pertama, cerita dimulai pada masa tuan-tuan tanah menguasai Betawi sekitar abad ke-19, khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Kota atau Beos. Di sana banyak tinggal tuan tanah kaya. Setiap malam Minggu, mereka biasa mengadakan pesta.
Para tuan tanah ini biasanya juga banyak memiliki pembantu yang mahir bermain musik dan menari. Umumnya pesta para tuan tanah ini dimeriahkan oleh musik dari rombongan Gambang Kromong. Saat itulah para pembantu tuan tanah yang terdiri dari gadis-gadis muda itu, melayani tamu-tamu lelaki untuk menari. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai penari Cokek.
Versi kedua, Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik.
Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong.
Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing.
Bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.
Tamu Terhormat
Sebagai pembukaan pada tari Cokek ialah wawayangan. Penari Cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu penari Cokek menari bersama dengan mengalungkan selendang pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.
Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin kebelakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.
Dinamis dan Erotis
SUARA tiga alat musik gesek asal daratan China, khongahyan, tehiyan, dan su khong, cukup menyayat menusuk gendang telinga. Namun tiga alat gesek khas China itu, seakan memberikan harmonisasi komposisi gambang kromong saat mengiringi tarian onde-onde hasil pengembangan tari Cokek.
Ketiga alat gesek akan terdengar semakin memekik manakala pukulan kendang dan kecrek dimainkan dalam tempo cepat. Distorsi yang dihasilkan justru semakin membuat ritme tarian empat penari Cokek, memperlihatkan goyangan pinggulnya mengikuti irama. Mereka seakan tidak mengenal lelah terus melenggang ditingkahi musik gambang kromong menciptakan irama penuh keriangan. Posisi tubuh penari yang terkadang tegak dan terkadang membungkuk, menampilkan kesan erotis. Demikian pula saat pinggul digoyang, hanya sesekali berputar selebihnya melenggang.
Tarian onde-onde tidak hanya memperlihatkan sisi erotis, tetapi juga dinamisasi gerak. Semisal di sela selancar serta matuk, juga diselingi gerakan nguk-nguk (loncat) yang dilakukan secara bersama-sama. Ada kalanya tarian ditingkahi gerakan tangan dan kepala, mengikuti entakan suara gendang dan kecrek saat tempo nada cepat. Namun gerakan sang penari dapat berubah tiba-tiba manakala te hi ang, su khong, dan khong a yan, mendominasi musik pengiring. Dalam gerakan, antara onde-onde yang belakangan. Dimasukkan dalam khasanah tarian Betawi dengan jaipongan yang juga masuk khasanah tarian Jawa Barat, merupakan bentuk tarian pengembangan dari tarian tradisional. Tarian onde-onde merupakan pengembangan tarian cokek, sedangkan jaipongan pengembangan dari ketuk tilu.
Cokek ini termasuk dalam genre tari rakyat, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat jelata. Genre tari ini terlahir dan dihidupkan oleh komunitas etnik. Secara fungsi untuk upacara dan hiburan, tariannya dapat dibilang sederhana. Dalam penyajiannya jarak antara penonton dan pemain begitu lentur, dengan kata lain tidak ada jarak estetis, serta seluruh penonton terlibat langsung dalam pertunjukkannya. Selain Cokek dari Tangerang, yang termasuk genre tari rakyat antara lain: sisingaan, doger kontrak dari Subang, ketuk tilu, benjang dari Bandung, ronggeng gunung, badud, ronggeng kaler dari Ciamis, ronggeng uyeg dari Sukabumi, angklung sered dari Tasikmalaya, angklung gubrag dari Bogor, angklung Baduy dari Kabupaten Lebak, topeng banjet dan bajidoran dari Karawang
Tradisi Perkawinan Chiou-Thaou
Acara pernikahan chio-thou diselenggarakan dalam tradisi kuno masyarakat China Benteng. Tradisi per-kawinan chio-thau juga dilakukan oleh warga Tionghoa di Padang dan sekitarnya. Chiou-thau adalah istilah umum bagi suatu upacara pernikahan yang unik dan langka.
Secara harfiah, chiou-thau berarti "mendandani rambut" - sebuah ritual pelintasan (rite of passage) yang harus dilaksanakan sebagai pemurnian dan inisiasi memasuki masa dewasa. Upacara ini sangat sakral dan hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup sesaat menjelang pernikahan. Seorang duda atau janda yang menikah lagi tidak diperkenankan rnelakukan ritual ini untuk kedua kalinya. Dalam tafsir lain, mereka yang belum menjalani chiou-thau dianggap masih anak-anak.
Menurut David Kwa, ahli sejarah Tionghoa yang menjadi konsultan acara ini, di masa lalu pasangan yang tidak menjalani chiou-thau dianggap akan melahirkan anak-anak haram. Begitu tingginya makna upacara mendandani rambut.
Pukul enam pagi, ritual ini sudah dimulai di rumah mempelai perempuan. Dengan upacara sederhana yang berlangsung polos - artinya, dengan bahasa sehari-hari dan berlangsung sangat wajar, termasuk kesalahan-kesalahan karena dilakukan tanpa general rehearsal - orang tua mempelai melakukan sembahyang di depan rumah, dan menyerahkan anak gadis mereka kepada juru rias untuk didandani. Juru riasnya pun tampil sangat sederhana. Musik tradisional pat tim (artinya, delapan instrumen) yang terdiri atas instrumen gesek, tiup, dan perkusi mengiringi acara ini. Bunyi instrumen tiupnya sangat mirip dengan bagpipe dari Irlandia yang mendayu-dayu.
Pengantin yang cantik keluar dari kamar dengan baju dan celana satin putih dan rambut tergerai. Ia didudukkan di kursi rias. Secara simbolis rambutnya disisir oleh adik pengantin. Kemudian rambut itu "disubal" dengan cemara (rambut palsu) dan digulung menjadi bola rambut di atas kepala pengantin. Di atas bola rambut itu kemudian ditusukkan 25 tusuk konde bermotif floral dan burung hong (phoenix). Burung hong adalah ratu semua unggas. Karena pengantin selalu dianggap sebagai raja sehari, maka pengantin perempuan memakai lambang ratu (burung hong), sedangkan pengantin laki-laki memakai lambang raja (naga). Setelah selesai merias rambut, jubah atau baju luar untuk pengantin dikenakan. Jubah ini berwarna hijau dan merah dengan sulaman dan ornamen hias dari logam warna perak bermotif kura-kura, bunga, kupu-kupu, ikan, kepiting, rusa, buket bunga, dan sebagainya. Wajah pengantin juga ditutup dengan kerudung dari kain transparan berwarna hijau.
Makan 12 mangkuk
Acara selanjutnya adalah bersantap dengan 12 jenis lauk yang masing-masing diletakkan dalam mangkuk porselin. Pengantin wanita didampingi dua orang saudara laki-laki yang belum menikah dan sebaiknya dari shio naga dan macan. Makanan dalam 12 mangkuk itu melambangkan kesinambungan rezeki dalam tiap-tiap bulan selama setahun. Rasa masakan juga berbeda-beda: asin, manis, pahit, tawar, pedas, gurih, berlemak - untuk menyiapkan pengantin bahwa tidak selamanya mereka menghadapi kondisi menyenangkan sepanjang usia pernikahan mereka.
Setelah rangkaian acara mendandani rambut di rumah pengantin perempuan selesai, sang jururias diantar ke rumah pengantin laki-laki untuk melakukan ritual yang sama. Di masa lalu kaum laki-laki juga memakai rambut panjang yang dikuncir. Tetapi, karena di masa sekarang pengantin laki-laki kebanyakan berambut pendek, maka upacara penyisiran menjadi lebih mudah dan singkat. Apalagi karena tidak diperlukan berbagai tusuk konde.
Sebelumnya, sambil menunggu kedatangan sang jururias, para tamu di rumah pengantin laki-iaki dijamu dengan berbagai jenis kue tradisional yang masing-masing mempunyai makna simbolis. Misalnya, harus ada kue pepe, yaitu kue lapis dari tepung beras yang mengharap agar pasangan pengantin bisa lengket terus sampai kakek nenek.
Kue lapis legit sebagai pengharapan akan rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok yang mekar melambangkan rezeki dan cinta yang terus mekar. Kue ku berbentuk kura-kura sebagai lambang panjang umur. Ada lagi ketan tetel yang dicocol dengan serundeng ebi, dan apem cukit yang dicocol dengan kinca duren. Kue tradisional lainnya termasuk lapis legit, roti bakso, manisan kolang-kaling, bika ambon, kue bugis, dan kue pisang.
Setelah pengantin laki-laki mengenakan jubahnya dan memakai topi yang berbentuk caping petani, para sanak keluarga memberi hadiah berupa uang yang diharapkan akan menjadi modal awal dalam menempuh bahtera keluarga. Setelah acara saweran ini, dilakukan juga upacara makan 12 mangkuk.
Taburan Beras Kuning
Pengantin laki-laki kemudian pergi menjemput pengantin perempuan di rumahnya. Di masa lalu, ini dilakukan dengan naik tandu. Tetapi, sekarang dilakukan dengan naik mobil. Kedatangan kedua mempelai di rumah pengantin laki-laki disambut dengan gemuruh bunyi petasan. Tradisi ini tampaknya ditiru dalam tradisi pengantin Betawi.
Anehnya, ada juga acara tabur beras kuning dan uang logam yang sangat mirip dengan acara pernikahan di berbagai adat Nusantara. Ini sekaligus menunjukkan masuknya adat Sunda ke dalam tradisi chiou-thau.
Para tamu, khususnya mereka yang masih muda, berebut memperoleh uang logam yang ditaburkan. Ini dipercaya sebagai lambang rezeki.
Kedua mempelai langsung digiring masuk ke kamar pengantin. Di belakang pintu tertutup itu kabarnya mereka melakukan upacara makan onde-onde. Pengantin laki-laki harus mencabut satu kembang goyang dari sanggul pengantin perempuan. Sebaliknya pengantin perempuan membuka kancing baju paling atas dari pengantin laki-laki. Masa' seh cuma makan onde-onde? Ah, nggak usah dibahas lah apa yang sebetulnya terjadi di dalam sana.
Setelah keluar dari kamar pengantin, dilakukan acara teh pai. Orang tua dan sanak saudara memberi sekadar uang pelita sebagai hadiah kepada pengantin. Berlainan dengan angpau yang biasanya dimasukkan ke dalam amplop berwarna merah, uang pelita ini dimasukkan dalam amplop putih bergaris merah.
Kepada setiap pasangan orang tua dan kerabat yang akan memberi amplop, pengantin perempuan terlebih dulu menyuguhkan teh dalam mangkuk kepada yang, memberi amplop. Sesudah menerima amplop, pasangan pengantin melakukan pai atau kowtow (menghormat dengan kedua tangan saling digenggam dan digoyang-goyangkan di depan leher) sebagai ucapan terima kasih. Bukanlah ini sangat mirip dengan acara "jual dawet” dalam tatacara perkawinan Jawa?
Tentu saja harus ada acara makan-makan dalam setiap rangkaian upacara pernikahan. Salah satu hidangan istimewa khas Tangerang adalah bakso Lohwa. Biasanya bakso ini harus dibuat dari daging babi. Tetapi, karena banyak tamu yang beragama Islam, daging baksonya dibuat dari campuran ayam, sapi, dan udang. Kaldu beningnya sungguh lezat. Versi asli bakso Lohwa ini justru daging yang dicincang kasar agar terasa ketika digigit.
Hidangan lain yang tampak di meja adalah capcay, sambal godok, ayam goreng bumbu kuning, pare isi daging, kuah kecap, pindang bandeng, rujak penganten, dan bihun goreng. Pindang bandeng, seperti pernah saya kemukakan sebelumnya, tidak hanya populer di Tangerang, melainkan juga di Jakarta. Bumbunya adalah bawang merah, cabe, kunyit, jahe, lengkuas, daun salam, asam jawa. Uniknya, semua bumbu ini hanya dibakar - tidak diulek - dan kemudian direbus dalam kuah bandeng. Ditambah kecap, tentu saja. Orang Tangerang sangat bangga dengan produk kecal lokal merek SH. "Kagak aci kalau bukan kecap SH," kata si jurumasak. Jangan lupa, pindang bandeng harus dimakan dengan emping goreng khas Banten yang wajib diguyur dengan kuahnya. Nyam nyam-nyam!!! Semua makanan yang dihidangkan bukan dari perusahaan jasaboga (catering), melainkan semacam potluck dari para kerabat dan tetangga, sehingga betul-betul merupakan home cooking. Pindang bandeng dari keluarga A, bihun goreng dari keluarga B, dan seterusnya.


