Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Anonim

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Senin, 14 Oktober 2013

Buat Anda Yang Menghina Keluarga Saya

Suatu hari ada seorang perempuan (mohon maaf sebelumnya) karena ada suatu masalah orang ini selalu memprovokasi keluarga saya. Berkata menghasut, bahkan menghina keluarga dan orang tua saya, bahkan menyebut nama pemberian orang tua saya dengan kata kotor. Kata ini terlontar (sekali lagi minta maaf) dari seorang yang katanya mengaku dari pesantren bahkan perguruan tinggi islam. Sungguh bila saya katakan tidak bermoral dan tidak beretika.
Memang baru saat ini saya tumpahkan melalui blog pribadi saya.
Saya sangat menyanyangkan sikapnya yang sudah terlampau jauh mencampuri urusan keluarga orang hingga sat ini. Apalagi setidaknya dia mengerti batasan wilayah dia, siapa dia.
Sebaiknya dia menghindari bukan semakin memperkeruh keadaan saat itu. Terkadang bila ada status facebook saya yang suka aneh-aneh dia langsung pengumuman lewat sms. Wow...luar biasa batas wilayah anda. Saya bukannya mendoakan, tapi sikap anda sudah sangat menzholimi keluarga saya.
Introspeksi pada diri anda, jauhi keluarga saya. Urusilah urusan anda sendiri.

Cerita Sederhana Yang Bermakna

Ilustrasi
Beberapa waktu lalu saat mendapat tugas Dinas Luar Kota dari Kantor. Ada sedikit cerita tentang pengalaman seorang rekan kerja (tak usah disebutkan namanya).
Selepas kegiatan acara di suatu hotel di wilayah Cisarua setelah shalat maghrib, kami kumpul di salah satu rekan kerja. Cerita tentang kegiatan tadi. Tiba-tiba Handphone rekan saya berbunyi, sebentar dia bilang istri telepon. Karena suara telepon tersebut terdengar karena sepinya. "Ayah, Bunda izin keluar buat beli nasi goreng di depan". Iya, sama siapa? "Sama kaka dan dede" (anak pertama dan keduanya.red).
Mendengar akan itu saya sempat berguyon, wah keluar sebentar tapi harus ijin nih... Teman saya hanya tersenyum saja.
Tapi inilah nilai sederhana itu. Seorang suami berada jauh diluar kota, sang istri tetap menghormati sang suami dengan pamit atau ijin keluar rumah walaupun itu hanya dekat dari rumah. Subhanallah.

Nabi bersabda yang artinya :
“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berada di rumah suaminya sedangkan suaminya tidak suka (ridha) dan janganlah ia keluar rumah dalam keadaan suaminya tidak ridha. Janganlah mentaati seorangpun di rumah suaminya (selain suaminya), janganlah ia menjadikan suaminya gusar, janganlah ia menjauhi ranjang suaminya dan janganlah ia merugikan suaminya walaupun ia (suaminya) lebih dhalim darinya (wanita) sampai (si isteri) mencari keridhaan suami. Maka jika suami ridha dan menerimanya, maka itu suatu kenikmatan baginya (wanita). Allah akan menerima udzur-udzurnya dan akan berserilah wajahnya dan ia tidak berdosa, tapi jika suami menolak untuk ridha kepadanya maka sungguh ia telah menyampaikan udzur-udzurnya.” (Hadits Hasan dikeluarkan Baihaqi dalam “Sunan”nya (7/293) dan Hakim (2/189-190) dari jalan ‘Atha bin Abu Muslim al-Khurasany dari Malik bin Yakhamir as-Saksaky dari Mu’adz bin Jabal secara marfu’ maka ia menyebutkannya.)

Hendaknya isteri tidak keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya, jika ia berbuat demikian (keluar tanpa ijin) maka ia terus berada dalam kemaksiatan dan ia layak untuk mendapat adzab.
Syaikhul Ibnu Taimiyah berkata;
“Tidak dihalalkan bagi isteri untuk keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya (suami), dan tidak dihalalkan bagi siapapun untuk mengambilnya (isteri) darinya (suami) dan menahannya dari suaminya, baik keadaan isteri sebagai ibu susu atau bidan atau profesi-profesi lain. Dan apabila ia keluar dari rumah suaminya tanpa seijinnya maka ia telah berbuat nusyuz (durhaka) bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia layak mendapat adzab.” (Majmu’ Fatawa (32/281))
Semoga Allah menjadikan kita sebagai Muslim yang Shaleh. Aamiin Ya Rabb. Mohon maaf bila ada kekurangan dalam penulisan ini. Hanya sedikit berbagi.

Selasa, 06 Agustus 2013

Mendahulukan Hak Suami dari Orang Tua

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” (HR Tirmidzi no 1159, dinilai oleh al Albani sebagai hadits hasan shahih).
Ketika menjelaskan hadits di atas penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Demikian itu dikarenakan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan tidak mampunya istri untuk berterima kasih kepada suaminya. Dalam hadits ini terdapat ungkapan yang sangat hiperbola menunjukkan wajibnya istri untuk menunaikan hak suaminya karena tidak diperbolehkan bersujud kepada selain Allah”.
Berdasarkan hadits di atas maka seorang istri berkewajiban untuk lebih mendahulukan hak suami dari pada orang tuanya jika tidak mungkin untuk menyelaraskan dua hal ini.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua” (Majmu Fatawa 32/261).
Di halaman yang lain beliau mengatakan,
“Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami meski diperintahkan oleh bapak atau ibunya apalagi selain keduanya. Hukum ini adalah suatu yang disepakati oleh para imam. Jika suami ingin berpindah tempat tinggal dari tempat semula dan dia adalah seorang suami yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami serta menunaikan hak-hak istrinya lalu orang tua istri melarang anaknya untuk pergi bersama suami padahal suami memerintahkannya untuk turut pindah maka kewajiban istri adalah mentaati suami, bukan mentaati orang tuanya karena orang tua dalam hal ini dalam kondisi zalim. Orang tua tidak boleh melarang anak perempuannya untuk mentaati suami dalam masalah-masalah semacam ini” (Majmu Fatawa 32/263).

Istri Harus Taat Suami atau Orang Tua?

Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan—sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah—, tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya.

Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.” Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW. Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, “Taatilah suami kamu.” Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah yang dinukil oleh at-Thabrani dan divonis lemah itu, setidaknya menggambarkan tentang bagaimana seorang istri bersikap. Manakah hak yang lebih didahulukan antara hak orang tua dan hak suami, tatkala perempuan sudah menikah. Bagi pasangan suami istri, ‘dialektika’ kedua hak itu kerap memicu kebingungan dan dilema.

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah. Mengomentari hadis itu, Imam Nawawi mengatakan hadis yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling berhak mendapatkannya adalah ibu, lalu bapak. Kemudian disusul kerabat lainnya.

Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ke taatan itu masih berada di koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.

Oleh karena itu, imbuhnya, kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya. Bila hal itu terjadi, merupakan kesalahan besar. Pasca menikah maka saat itu juga, anaknya telah me ma suki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melain kan menjadi tanggung jawab suami. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan se ba hagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS an-Nisaa’ [4]: 34).
Meski demikian, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua atau mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya. Ikhtiar itu kini—dengan kemajuan teknologi—bisa diupayakan sangat mudah. Menyambung komunikasi dan hubungan istri dan keluarga bisa lewat telepon, misalnya.

Alqaradhawi menambahkan, di antara hikmah di balik kemandirian sebuah rumah tangga ialah meneruskan estafet garis keturunan. Artinya, keluarga dibentuk sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa ada intervensi pihak luar. Bila selalu ada campur tangan, laju keluarga itu akan tersendat. Sekaligus menghubungkan dua keluarga besar dari ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.” (QS al-Furqan [25]: 54).

Ia menyebutkan beberapa hadis lain yang menguatkan tentang pentingnya mendahulukan ketaatan istri kepada suami dibandingkan orang tua. Di antara hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwa yatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar. Konon, Aisyah pernah berta nya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “(hak) suaminya.” Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedang kan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab, “(Hak) ibunya.”

source : Republika

Sabtu, 06 Juli 2013

Nasehat kepada Istri

Karena engkau wahai seorang istri dapat menjadi fitnah bagi suamimu, maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai engkau menjadi musuh dalam selimut baginya. Jangan engkau jerat dia atas nama cinta, hingga ia terjaring dan tak dapat lepas darinya. Akibatnya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mencari ridhamu, mengikuti kemauanmu, walaupun hal itu bertentangan dengan syariat.

Bertakwalah engkau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadilah istri yang shalihah dengan membantu suamimu agar selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semestinya engkau tidak suka bila ia melakukan perkara yang melanggar syar’i karena ingin menyenangkan hatimu. Keberadaanmu di sisinya, sebagai teman hidupnya, jangan menjadi penghalang baginya untuk menjadi hamba yang bertakwa dan menjadi anak yang shalih bagi kedua orang tuanya.

Cintailah suamimu, syukurilah dengan cara engkau semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan kewajibanmu dengan sebaik mungkin, dan mencurahkan segala kemampuanmu untuk memenuhi haknya sebagai suami.

Zuhud terhadap dunia, jangan engkau abaikan. Sehingga engkau tidak menuntut suamimu agar memenuhi kenikmatan dunia yang engkau idamkan. Pautkan selalu hatimu dengan darul akhirat agar engkau tidak menghamba pada dunia yang tidak kekal.

Minggu, 07 April 2013

Renungan

“Kesediaan diri untuk mengintrospeksi diri, meminta maaf dan saling menasehati merupakan mutiara berharga yang telah hilang dari rumah tangga kita. Betapa keharmonisan akan terwujud dan kebaikan akan memadati rumah tangga kita bila sepasang suami istri mau saling menasehati dan saling memaafkan kesalahan pasangannya.”


Jumat, 29 Maret 2013

Doa ku untuk Istriku

Alhamdulillahi robbil ‘aalamiiin… Ashsholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah…
Terimakasih, yaa Robbiii… Engkau telah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan ini. Menghalalkan yang sebelumnya belum halal atas kami. Mengharamkan yang sebelumnya belum haram atas kami. Mengikuti sunnah Rasul-Mu. Menyempurnakan separuh dien-Mu. Menyemai ibadah dalam bilik kemesraan kami. Sembari terus–menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu…
Penantian panjang yang kami jalani dengan harap-harap cemas bersama doa-doa yang dilantunkan di sudut hening malam, di pagi berkabut, maupun di terik siang yang membakar peluh, telah Engkau usaikan dalam majelis pernikahan yang sederhana dan takzim itu. Ijab Qabul dan Ikrar suci yang diucapkan lirih pada sore hari itu, merambatkan segala rasa yang terpatri dalam di lubuk batin kami. Menggema memenuhi rongga kepala dan hati kami. Hingga air mata haru dan isak tangis kami pun tak kan mampu melukiskannya.
Sembari terus-menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu, atas dosa-dosa yang telah dan mungkin akan terjadi, kami memohon kepada-Mu, dengan segenap harapan dan kerendahan hati, sudilah kiranya Engkau menuntun kami ke jalan yang Engkau ridhoi. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang Engkau murkai. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang sesat. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang dzhalim. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang fasik. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang kafir. Selamatkanlah kami dalam kehidupan kami di dunia dan di akhirat kelak.
Yaa Robbiii… Jadikanlah isteriku isteri yang taat menjalankan perintah-Mu, dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Jadikanlah ia isteri yang taat kepadaku dalam perjalanan menggapai ridho-Mu. Jauhkanlah ia dari sifat-sifat buruk dan bejat, dari sifat ujub dan khianat, dari sifat dzhalim dan fasik, dan sifat-sifat yang mendatangkan murka-Mu. Jadikanlah ia isteri shalehah, sebaik-baik perhiasan dunia bagiku. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam menuntut ilmu. Menjadi guruku. Menjadi muridku. Menjadi teman belajarku. Menjadi rekan sejawatku dalam berlomba-lomba di jalan kebaikan.
Yaa Robbiii… Jadikanlah aku imam bagi keluargaku. Imam yang adil dan mengajak kepada jalan yang Engkau ridhoi. Bimbinglah aku dalam memimpin. Tegurlah aku dikala lalai dari tanggung jawabku, dengan teguran Rahman dan Rahim-Mu. Jauhkanlah aku dari sifat-sifat buruk dan bejat, dzhalim dan fasik, dari sifat ujub dan khianat, dan dari segala sifat yang mendatangkan mudharat dan murka-Mu. Kuatkanlah keimananku, sebagai obor penerang bagi keluargaku dalam mengarungi gelapnya kehidupan akhir zaman ini. Bimbinglah kami, yaa Robbal ‘aalamiiin…
Yaa Robbiii… Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari. Ampunilah dosa Ibu dan Bapak kami. Ampunilah dosa saudara-saudara kami. Ampunilah dosa kerabat-kerabat kami. Ampunilah dosa sahabat-sahabat kami. Ampunilah dosa guru-guru kami. Ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Yaa Robbiii… Karuniailah kami keturunan yang shaleh dan shalehah. Anak-anak yang taat menjalankan perintah-Mu dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Anak-anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Karuniailah kami keturunan yang akan teguh memperjuangkan tegaknya dien-Mu di bumi ciptaan-Mu ini.
Yaa, Robbiii… Karuniailah kami keturunan yang menggenggam erat sunnah Rasul-Mu. Memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam di persada bumi ini. Generasi yang siap mengorbankan segala yang ada padanya untuk mempertahankan aqidahnya, memperjuangkan al-Haq dan mengingkari al-bathil.
Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaaban naar…Allohummaghfirlanaa bikaroomika ajma’iiin, watubuwazaqi wa’fu ‘an man yaquulu aamiiin aamiiiin aaamiiin…. Washollollohu ‘alaa sayyiidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi ajma’iiinWalhamdulillahi robbil ‘aalamiiin…
Hamba dalam siluet senja itu, Tertangkup tangan doa bahagia untuknya, Terbisik harapan pada Robbi…
Ya Allah…. Izinkan aku menggelar sajadah bersamanya, Beralas cinta berujung surga. Yang menenggelamkan kami dalam sujud penuh kerinduan kepada-Mu, Dalam takbir yang mengakui Keagungan-Mu, Dalam salam yang mengingatkan kami bermanfaat bagi sesama, Dalam wudhu yang membersihkan hati kami untuk melihat Wajah-Mu, Dalam tilawah yang kami lantunkan penuh haru, Dalam dzikir yang tiada akhir, Yang membuat kami semakin kagum akan Pesona-Mu.. Menyukuri ayat-ayat Cinta-Mu yang Kau bentangkan pada kami, Yang menetapkan kami menjadi Akhlakul Karimah Rohmatan lil Alamin..
Ya Allah….Tak kupinta dia untuk sempurna..Tapi jadikan kami sempurna tuk saling mengisi kekurangan kami..Tak kupinta dia datang dengan kesombongan atas apa yang diraihnya..Tapi datangkan Ia dengan ketulusan cinta hanya kerana-MuAgar kudapatkan kebaikan dunia, agama dan akhiratku…..Aamiin ya Rabbal’Alamin…
Ya Allah…Izinkan aku menggelar sajadah bersamanya ..
Aamin ya Rabbal’Alamin…..

seubuah catatan strawberry FB

Tiga Kiat Membuat Dunia Menjadi Syurga

SubhanAllah, sahabatku, dalam kesempatan ini kusampaikan untuk kalian tiga kiat membuat dunia ini "Al Jannah qoblal Jannah" Syurga sebelum Syuga sebenarnya di akhirat kelak:

  • Sungguh-sungguh taat kepada Allah
  • Baik sangka atas semua takdir-Nya dan
  • Asyik muhasabah diri dengan sibuk terus memperbaiki diri, sama sekali tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib orang lain.
Coba renungkan ulang hikmah ini sahabatku fillah.

I love you all cause of Allah.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/10/25/mcftks-tiga-kiat-membuat-dunia-menjadi-syurga

Kriteria Istri Sholehah

Inilah diantara kriteria istri sholehah
  1. Sangat damai hidup bersamanya karena ketaatannya kepada Allah (QS 4:34)
  2. Kalau ditatap selalu menyenangkan
  3. Tidak membantah jika diperintah suaminya dalam kebaikan dan Syariat Allah
  4. Pandai menjaga kehormatan dan harta suaminya. Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik istri sholehah adalah jika ditatap menyenangkan, bila diperintah taat, dan jika suaminya pergi pandai menjaga kehormatan dan harta suaminya" (HR Abu Daud)
  5. Mulia sekali karena terjaga kehormatan dan tertutup auratnya (QS 33:59)
  6. Bukan hanya sabar bahkan rela berkorban untuk suaminya
  7. "Gholimah" pandai merawat tubuhnya dan sangat aktif melayani suaminya
  8. Bersyukur atas nikmat Allah dengan terus membangkitkan semangat suami dan tidak menuntut diluar batas kemampuan suaminya
  9. Menyayangi dan menghormati keluarga suaminya
  10. Tidak keluar rumah tanpa seizin suaminya
  11. Menyertakan suaminya dalam doanya, terutama dipenghujung malam
  12. Penuh perhatian saat suami bicara disertai tatapan cinta
  13. Hadiah kecil tetapi sangat membahagiakan suami, tatkala istri menciumnya disertai bisikan, "Adek bangga menjadi istrimu, kak"
SubhanAllah indaaaaaaaaah sahabatku, makasih ya Allah.

sources : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/10/30/mcosvx-kriteria-istri-sholehah
SELAMAT DATANG DI AZIMUTYO BLOG
Lilypie Kids Birthday tickers